Mengenang Legenda: Hendro Kartiko, Lelaki yang Pernah Dijuluki 'Fabian Barthez-nya Indonesia'

Mengenang Legenda: Hendro Kartiko, Lelaki yang Pernah Dijuluki 'Fabian Barthez-nya Indonesia'

Di Indonesia, kejadian seperti itu juga sangat sering terjadi. Namun, jika bukan satu-satunya, Hendro Kartiko adalah salah satu pengecualian. Cita-citanya untuk menjadi penjaga gawang terbaik terus dipandu oleh penyelamatan-penyelamatan yang amat sering dilakukan oleh Hermansyah, Edwin van der Sar, serta Peter Schmeichel.


Dan sejak saat itu, ia tak pernah berbelok dan  tak lagi peduli dengan omongan orang. Keinginannya tak bisa diganggu gugat, menjadi abadi dalam permainan sepak bola seperti para idolanya tersebut.

Dalam sejarah panjang sepak bola Indonesia, Hendro Kartiko juga mempunyai sejarah tersendiri. Ia menjadi penjaga gawang selama kurang lebih 24 tahun, dari tahun 1988 hingga tahun 2012 lalu. Daftar klub yang dibelanya pun jumlahnya puluhan, dari Porsela Treblasala hingga Mitra Kukar.


Dalam periode tersebut, daftar prestasi Hendro  tak sembarangan. Ia pernah membawa PSM Makassar (2000) dan Persebaya Surabaya (2004) menjadi juara liga Indonesia, dan juga pernah menggenggam Piala Indonesia saat membela Sriwijaya FC pada tahun 2010 lalu. Namun di samping semua itu, kehebatannya justru tampak begitu menonjol saat ia mengenakan seragam tim nasional.


Membicarakan tentang para penjaga gawang yang pernah mengawal gawang timnas Indonesia, barangkali masih banyak penjaga gawang lainnya yang lebih hebat daripada Hendro Kartiko. Maulwi Saelan, penjaga gawang timnas Indonesia di era 50-an, akan selalu dikenang sebagai salah satu bagian penting dalam cerita rakyat yang ber-setting di Mebourne, Australia, tahun 1956 lalu.

Eddy Harto juga bisa dibilang sebagai pahlawan tunggal keberhasilan Indonesia dalam gelaran SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Namun, Hendro mempunyai cerita ajaib sendiri dan hal inilah yang membuatnya lebih hebat daripada penjaga timnas Indonesia lainnya.   

Hendro mulai dipercaya menjadi kiper timnas senior Indonesia dalam gelaran Piala Asia 1996. Saat itu ia masih berusia 23 tahun dan statusnya adalah cadangan Kurnia Sandy. Namun karena cedera yang dialami Sandy dalam laga pembuka melawan Kuwait, ia pun menjadi pilihan utama Indonesia hingga akhir turnamen.


Sayangnya, daripada menjadi pahlawan Indonesia, gawang Hendro kartiko justru kebobolan tujuh gol dalam gelaran Piala Asia 1996 tersebut.

Meski begitu, kegagalan di Piala Asia 1996 tersebut kemudian mengantarnya menjadi salah satu legenda sepak bola Indonesia. Pasalnya, seiring dengan peningkatan kualitas yang dimilikinya, jam terbangnya bersama tim nasional semakin bertambah. Ia selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan saat timnas Indonesia dijauhi oleh prestasi.

Dan berapa kali pun tempatnya digeser oleh penjaga gawang lainnya, ia akan kembali menjadi solusi.

Dengan pendekatan seperti itu, hingga ia pensiun tahun 2011 lalu, Hendro mampu tampil 60 kali bersama timnas Indonesia di bebagai macam kejuaraan, menjadi salah satu penjaga gawang Indonesia yang paling sering tampil bersama timnas.

Penampilan terbaik Hendro bersama timnas sendiri terjadi dalam gelaran Piala Asia 2000 dan 2004 lalu. Saat itu, saat Indonesia berhasil menahan imbang Kuwait 0-0 dalam gelaran Piala Asia 2000 dan menang 2-1  atas Qatar dalam gelaran Piala Asia 2004,

Hendro dinobatkan sebagai man of the match. Hebatnya, dimulai dari penampilan gemilangnya saat melawan Kuwait tersebut, penggemar sepak bola Asia mulai menjulukinya sebagai Fabian Barthez-nya Indonesia.

Sumber 





Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Popular Post

Arsip Blog